Pianis dengan Empat Jari

lee hee ah
Sumber : http://ampwom.wordpress.com/

Lee Hee Ah terlahir dengan hanya dua jari pada masing-masing tangannya, dan potongan kaki yang sangat pendek di bawah lututnya. Pada usia 3 tahun, Lee harus merelakan kakinya diamputasi sampai bagian lutut karena diketahui Hee Ah tidak memiliki tungkai pada kedua kakinya. Hal ini menyebabkan dia harus berjalan dengan mengandalkan tumpuan lututnya dan tidak sanggup berjalan jauh.

Cacat yang dialami Hee Ah diduga akibat ibunya mengonsumsi obat anti mabuk tanpa sadar bahwa dia sedang mengandung Hee Ah. Ketika Hee Ah lahir, keluarga ibunya sempat menyarankan ibu Hee Ah untuk menyerahkan Hee Ah kepada panti asuhan, namun ditolak mentah-mentah oleh ibu Hee Ah. Karena yakin bahwa dialah penyebab tidak sempurnanya fisik Hee Ah, ibunya merasa bertanggung jawab penuh untuk membesarkan Hee Ah seperti anak-anak lainnya.

Pada usia 6 tahun, Hee Ah mulai belajar bermain piano. Alasan utama ibunya mengajarkan piano pada Hee Ah adalah untuk melatih otot tangannya supaya kelak jari-jari Hee Ah cukup kuat untuk menggenggam pensil atau barang lainnya. Terapi ini dipilih ibunya karena berharap Hee Ah juga dapat belajar menikmati musik dan hal lainnya.

Guru yang membimbing Hee Ah sempat berkecil hati karena menganggap Hee Ah sama sekali tidak berbakat dalam bidang musik. Untuk membuat Hee Ah kecil sanggup menekan sebuah tuts saja memakan waktu beberapa bulan lamanya karena jari-jarinya sangat lemah. Selain itu, Hee Ah juga tidak dapat mengenali nada dan melodi dengan baik karena gangguan fungsi otaknya.

Dokter yang menangani Hee Ah juga menyatakan bahwa Hee Ah tidak akan sanggup mengingat lagu yang lebih panjang dari 5 menit. Memaksa Hee Ah untuk melakukan hal ini dikhawatirkan akan semakin merusak fungsi otaknya. Meski begitu, ibunya dengan tekun dan sabar membimbing Hee Ah menghapal lagu pertamanya.

Butuh waktu kurang lebih 5 tahun bagi Hee Ah untuk merampungkan lagu pertamanya. Lagu favoritnya, Chopin’s impromptu Fantasia merupakan lagu dengan durasi 7 menit lebih. Hee Ah belajar siang malam untuk benar-benar menguasai lagu ini, sampai-sampai lembaran lagunya lusuh dan sobek di berbagai bagian.

Setelah menguasai beberapa lagu, Hee Ah memberanikan diri mendaftar di kontes piano. Namun, dia harus kecewa karena ditolak oleh panitia setelah mereka melihat kondisinya. Bersama dengan ibunya, Hee Ah terus memohon dan bersikeras untuk ikut dalam konser tersebut. Pada akhirnya, bukan hanya berhasil menyakinkan para panitia, Hee Ah bahwa berhasil menyabet peringkat pertama dalam konser tersebut.

Para juri dalam konser sama sekali tidak menyadari bahwa Hee Ah memiliki kekurangan fisik saat memainkkan lagunya. Mereka baru mengetahuinya saat pengumuman pemenang. Kejutan besar itu membawa Hee Ah semakin giat mengikuti berbagai perlombaan lokal dan nasional. Untuk mengasah kemampuannya, Hee Ah harus berlatih minimal 10 jam sehari sampai jari-jarinya lecet dan melepuh.

Hee Ah semakin dikenal oleh orang-orang setelah sejumlah media meliput kisahnya yang penuh dengan keberanian dan kerja keras. Sejumlah sekolah di distrik Seoul bahkan memasukkan buku biografi Hee Ah sebagai bacaan wajib untuk sekolah dasar.

Pada tahun 1997, Hee Ah menyelenggarakan konser tunggal pertamanya dan menyumbangkan hasil penjualan tiket untuk yayasan khusus orang-orang dengan keterbatasan fisik seperti dirinya. Kini Hee Ah melakukan konser di berbagai Negara dan menginspirasi banyak orang. Dalam setiap penampilannya, kisah Hee Ah menyentuh orang-orang sekitarnya. Dalam segala keterbatasannya, Hee Ah mampu berprestasi melebihi orang-orang dengan fisiik yang sempurna.

Leave a Reply